Jika Kesepakatan Tak Tercapai, Trump Naikkan Tarif Puluhan Mitra Dagang
Kamis, 31 Jul 2025, 09:16 WIBWASHINGTON-Â Apabila gagal mencapai kesepakatan,Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam puluhan mitra dagangnya mematok tarif tinggi terhitung 1 Agustus 2025, meski kebijakan tersebut sangat berisiko menaikkan harga di tingkat konsumen.
Para ekonom telah memperingatkan bahwa tarif AS yang lebih tinggi, yang dibayarkan oleh importir produk asing, dapat menambah biaya bisnis dan mengalir ke rumah tangga.
Risikonya adalah melemahnya konsumsi sebagai pendorong utama ekonomi terbesar dunia itu. Tarif yang diberlakukan Trump dapat mempengaruhi segala hal mulai dari biji kopi dan beras hingga kakao, makanan laut, atau bahkan barang elektronik.
Asosiasi Kopi Nasional kepada AFP mengatakan untuk komoditas kopi, sekitar 99 persen kopi Amerika diimpor. Asosiasi mengatakan bahwa dua pertiga orang dewasa AS minum kopi setiap hari.
Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menyebutkan pemasok utama biji kopi meliputi Brasil, Kolombia, dan Vietnam. Brasil, yang menyumbang lebih dari 30 persen impor tersebut dalam beberapa tahun terakhir, menghadapi ancaman tarif sebesar 50 persen mulai 1 Agustus.
Sementara itu, impor dari Vietnam menghadapi tarif tambahan sebesar 20 persen bahkan setelah kesepakatan yang baru-baru ini dicapai negara Asia Tenggara itu dengan Trump.
Selain itu, pakaian seperti seperti kemeja dan sweater juga bisa menjadi lebih mahal.
Tiongkok, Vietnam, dan Bangladesh menyumbang lebih dari separuh impor pakaian AS dari Januari hingga Mei 2025, kata Asosiasi Pakaian dan Alas Kaki Amerika.
Ketiga negara menghadapi tingkat tarif yang berbeda di bawah pemerintahan Trump.
Barang-barang Tiongkok, yang mencakup hampir sepertiga dari impor pakaian, dikenakan bea masuk baru sebesar 30 persen pada tahun 2025, menambah bea masuk yang sudah ada.
Jika gencatan senjata yang berlaku hingga 12 Agustus tidak diperpanjang, tarif atas produk dari Tiongkok dapat melonjak lebih tinggi lagi, yang menyebabkan perusahaan menghentikan impor atau terpaksa menanggung lebih banyak biaya.
Barang-barang Vietnam menyumbang hampir 20 persen dari impor pakaian sementara barang-barang dari Bangladesh menyumbang sekitar 11 persen, kata asosiasi tersebut.
Trump mengancam akan mengenakan bea masuk sebesar 35 persen pada barang-barang Bangladesh.
Beras melati
AS juga merupakan negara pengimpor beras terbesar di Belahan Bumi Barat, yang mendatangkan sekitar 1,3 juta ton, menurut USDA.
Lebih dari 60 persen impor beras negara itu adalah varietas aromatik, sebagian besar melati dari Thailand dan basmati dari India dan Pakistan.
Thailand menghadapi tarif prospektif sebesar 36 persen pada 1 Agustus, India 26 persen, dan Pakistan 29 persen.
AS juga menerima beras berbutir sedang dan pendek dalam jumlah yang lebih kecil dari Asia dan beberapa produk dari Amerika Selatan.
Sementara itu, impor biji kakao AS, sebagian besar dari tempat-tempat seperti Pantai Gading dan Ekuador rata-rata lebih dari 1,1 miliar dollar AS per tahun dari tahun 2017 hingga 2021. Di antara mereka, Pantai Gading menghadapi tarif 21 persen.
Pengiriman mentega kakao bernilai 576 juta dollar AS per tahun dan sebagian besar dipasok oleh Indonesia dan Malaysia, yang menghadapi bea masuk baru masing-masing sebesar 19 persen dan 25 persen.
Terakhir elektronik,Trump juga mengancam bea masuk sebesar 50 persen pada impor tembaga mulai 1 Agustus. Perusahaan konsultan BCG memperingatkan bahwa hal itu akan menambah biaya impor tembaga mentah dan tembaga olahan ke negara tersebut sebesar 8,6 miliar dollar AS, dan lebih banyak lagi jika tarif diperluas ke produk turunan.
BCG memperkirakan biaya material akan melonjak untuk industri konstruksi, yang menggunakan 42 persen produk tembaga yang dikonsumsi di dalam negeri dan produsen barang elektronik.
- biaya tinggi
- hentikan ekspor
Redaktur: Diapari S
Penulis: Diapari S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.