Trump Klaim Amerika Bantu Gaza US$60 Juta Berupa Pangan

Selasa, 29 Jul 2025, 09:18 WIB

LONDON- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim bahwa pemerintahnya memberi 60 juta dolar AS (9,8 triliun rupiah) dua minggu lalu untuk bantuan makanan ke Gaza, sembari mengeluh: “Tidak ada yang mengakui itu; tidak ada yang membicarakannya. Rasanya agak buruk saat Anda memberi bantuan, tapi negara lain tidak memberi apa pun,” ujar Trump.

Menurut dia, tanpa bantuan dari AS, orang-orang di Gaza akan kelaparan dan menuduh Hamas mencuri dan mengeklaim: “Banyak makanan itu dicuri oleh Hamas mereka mencurinya, lalu menjualnya.”

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Ia mengatakan AS akan mengirim lebih banyak bantuan ke Gaza dan mendesak negara lain untuk melakukan hal yang sama, sembari menambahkan bahwa situasi di Gaza bukan hanya masalah AS, melainkan masalah internasional.

Terkait gencatan senjata, pada Minggu (27/7) Trump menyatakan bahwa Israel harus mengambil keputusan terkait langkah selanjutnya di Gaza, setelah upaya perundingan gagal.

Merujuk pada negosiasi pembebasan sandera, Trump menekankan pentingnya segera membebaskan para sandera, dengan mengatakan bahwa Hamas telah mengeraskan sikapnya. “Mereka tidak mau mengembalikan para sandera, jadi Israel harus mengambil keputusan,” ujarnya.

“Saya tahu apa yang akan saya lakukan, tapi saya rasa tidak tepat jika saya mengatakannya. Tapi Israel akan harus mengambil keputusan,” kata Trump kepada wartawan saat tampil bersama Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen di Skotlandia.

Menurut Trump, kesepakatan dengan Hamas mungkin bisa tercapai jika jumlah sandera berkurang. “Begitu mereka menyerahkan sandera, mereka merasa itu akhir dari mereka,” katanya.

Opsi Alternatif

Utusan khusus Trump, Steve Witkoff sebelumnya mengumumkan bahwa delegasi AS akan kembali ke Washington, DC, setelah respons Hamas menunjukkan kurangnya keinginan untuk mencapai gencatan senjata di Gaza. AS kini akan mempertimbangkan “opsi alternatif” untuk mengamankan para sandera dan menstabilkan situasi di Gaza.

Sejak 2 Maret, Israel membatalkan implementasi kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan dengan Hamas, sambil menutup perlintasan Gaza dan memblokir ratusan truk bantuan masuk ke wilayah kantong yang terkepung tersebut.

Menolak tekanan internasional untuk gencatan senjata, Israel melanjutkan kampanye militernya yang mematikan di Gaza sejak akhir 2023, yang telah menewaskan lebih dari 59.800 warga Palestina dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.

Kematian akibat kelaparan meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir akibat blokade selama berbulan-bulan dan distribusi bantuan yang buruk oleh lembaga kontroversial Gaza Humanitarian Foundation (GHF).

Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Kepala Pertahanannya, Yoav Gallant, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga tengah menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait perang di Gaza yang kini telah memasuki tahun kedua.

  • perundingan gagal
  • pembebasan sandera

Redaktur: Diapari S

Penulis: Diapari S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.