Tren 'Man of the Year' di TikTok Ungkap Sisi Gelap Pacaran Perempuan dan Laki Laki, Dibanjiri Kisah Hubungan Toxic!
Kamis, 24 Jul 2025, 11:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Media sosial, terutama TikTok, tengah diramaikan oleh tren "Man of the Year". Bukan penghargaan atau pujian seperti terdengar dari namanya, tren ini justru menjadi ruang bagi perempuan untuk membagikan pengalaman pahit mereka dalam hubungan dengan laki-laki, baik itu pasangan, ayah, saudara, hingga teman dekat.
Unggahan-unggahan tersebut diisi dengan cerita menyakitkan: dikontrol, disakiti, hingga direndahkan oleh sosok laki-laki yang seharusnya memberi rasa aman. Para pengguna TikTok memanfaatkan tren ini untuk menyuarakan luka yang selama ini mungkin tersembunyi di balik senyum.
Lagu Lorde Jadi Soundtrack Viral
Tren ini dipicu oleh lagu terbaru dari penyanyi asal Selandia Baru, Lorde, berjudul âMan of the Yearâ yang dirilis pada 28 Mei 2025. Dalam lagu tersebut, Lorde mengeksplorasi bagaimana energi maskulin dan feminin bisa hidup berdampingan dalam diri seseorang, sekaligus menggambarkan bagaimana pengalamannya dengan laki-laki membentuk siapa dirinya hari ini.
Lirik-liriknya yang emosional dan reflektif menjadikan lagu ini pilihan utama untuk backsound di TikTok, terutama dalam video-video yang berisi kisah trauma dan pelajaran hidup dari para perempuan.
Bukan Sekadar Curhat, Ini Kritik Sosial
Lebih dari sekadar curhatan, tren ini membawa isu serius ke permukaan: toxic masculinity atau maskulinitas toksik. Banyak perempuan mulai menyadari bahwa perlakuan "laki-laki banget" yang dulu dianggap normal seperti mendominasi, meremehkan, hingga mengontrol pasangan ternyata bisa sangat menyakitkan dan berdampak jangka panjang.
Tren ini mengungkap bahwa akar permasalahan bukan hanya terletak pada individu, tapi juga sistem sosial yang lebih besar, yakni budaya patriarki. Budaya yang mengagungkan dominasi laki-laki ini menjadikan ketimpangan gender sebagai sesuatu yang dianggap wajar, bahkan dalam lingkup terkecil: keluarga.
Ketimpangan dari Rumah Sendiri
Dalam banyak kasus, perempuan tumbuh dalam lingkungan yang tidak setara. Anak laki-laki sering kali dimanja atau diberi peran lebih penting dalam keluarga, sementara anak perempuan dibebani dengan tanggung jawab dan ekspektasi sosial.
Ketimpangan ini menciptakan ruang bagi laki-laki untuk tumbuh dengan rasa superioritas, dan bagi perempuan untuk menganggap perlakuan tak adil sebagai bentuk cinta atau kepedulian.
Dilansir dari Halodoc, ada beberapa alasan mengapa perempuan lebih rentan menjadi korban dalam hubungan:
-
Pengaruh budaya patriarki yang masih kuat di lingkungan keluarga.
-
Kurangnya edukasi tentang konsep hubungan yang sehat.
-
Minimnya pengalaman, sehingga tindakan mengontrol atau menyakiti sering dianggap sebagai bentuk perhatian.
Langkah untuk Mencegah dan Melindungi Diri dari Hubungan Toksik
Tren ini membuka diskusi penting tentang bagaimana perempuan bisa melindungi diri dan menciptakan hubungan yang lebih sehat. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
-
Pahami hubungan sehat
Pelajari apa saja tanda red flag dalam hubungan, baik dengan pasangan, keluarga, maupun teman. Jika merasa tidak aman, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. -
Waspadai perubahan sikap orang terdekat
Banyak kasus kekerasan justru dilakukan oleh orang terdekat. Validasi perasaanmu, jangan abaikan ketidaknyamanan. -
Bangun kepribadian yang kuat
Kepercayaan diri dan batasan yang jelas sangat penting untuk mencegah manipulasi. Peran lingkungan seperti keluarga dan sekolah sangat vital dalam membentuk hal ini sejak dini.
Tren "Man of the Year" bukan hanya gelombang viral biasa. Ini adalah seruan kolektif dari para perempuan yang ingin berkata cukup sudah. Cukup disakiti, cukup dikontrol, cukup direndahkan. Kini saatnya membangun hubungan yang lebih sehat, setara, dan penuh rasa hormat untuk semua.
- Tren TikTok Man of the Year
- Budaya Patriarki
Redaktur: Fitrya A Kusumah
Penulis: Fitrya A Kusumah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.