Fenomena 'Rojali' Ketika Pusat Belanja Dipenuhi Pengunjung, Tapi Penjualan Lesu: Apa yang Terjadi dengan Daya Beli Masyarakat?
Rabu, 23 Jul 2025, 14:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Pusat perbelanjaan di berbagai kota di Indonesia belakangan ini ramai dikunjungi oleh rombongan yang datang hanya untuk melihat-lihat tanpa melakukan pembelian.
Fenomena ini dikenal sebagai ârojaliâ atau rombongan jarang beli, yang kini tengah mencuat dan menjadi sorotan para pelaku industri ritel dan pengelola pusat belanja.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengonfirmasi bahwa fenomena ini memang terjadi di berbagai pusat perbelanjaan, baik di kalangan kelas menengah bawah maupun kelas menengah atas. Ia menilai kondisi tersebut merupakan dampak langsung dari penurunan daya beli masyarakat yang masih belum sepenuhnya pulih.
âDi tengah kondisi daya beli yang belum membaik, masyarakat tetap mengunjungi pusat perbelanjaan. Namun, pola belanjanya berubah. Karena dana terbatas, masyarakat cenderung membeli produk dengan harga yang lebih kecil atau murah,â ujar Widjaja saat dihubungi pada Minggu (20/7/2025).
Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat
Widjaja menjelaskan bahwa fenomena rojali bukanlah hal baru. Pola ini kerap muncul ketika terjadi perlambatan ekonomi atau penurunan kemampuan konsumsi rumah tangga. Ia menekankan bahwa fenomena ini bersifat sementara dan diperkirakan akan hilang seiring dengan membaiknya daya beli masyarakat.
âFenomena rojali tidak terjadi secara masif dan sifatnya sementara. Ini merupakan cerminan dari tekanan ekonomi terhadap pola konsumsi masyarakat,â jelasnya.
Untuk mengantisipasi kondisi ini, para pelaku usaha ritel dan pengelola mal disebut tengah menggencarkan program promo dan diskon besar-besaran demi menjaga minat belanja konsumen. Strategi ini ditujukan khususnya bagi masyarakat kelas menengah bawah yang terdampak paling signifikan oleh kondisi ekonomi saat ini.
âSementara daya beli belum pulih, pusat perbelanjaan dan peritel menggelar berbagai program promo agar barang tetap terjangkau,â tambah Widjaja.
Kelas Menengah Atas Pun Ikut Berhemat
Fenomena rojali ternyata tak hanya terbatas di kalangan menengah bawah. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menyebut bahwa kelas menengah atas yang biasanya menjadi tulang punggung konsumsi nasional juga menunjukkan sikap lebih hati-hati dalam membelanjakan uangnya sepanjang semester I-2025.
âKalau kita lihat data, tren konsumsi sejak awal tahun hingga Juni masih belum membaik. Perusahaan-perusahaan sudah mulai pulih, tetapi konsumen terutama kelas menengah atas masih menahan pengeluaran,â ujar David.
David bahkan menyamakan kehati-hatian ini dengan kondisi yang mirip krisis ekonomi global 2008. Ia menyebut bahwa beberapa pelaku usaha di sektor barang mewah, seperti pemegang merek tas premium, mulai merasakan penurunan penjualan.
âBeberapa pemegang merek luxury merasakan dampaknya. Ini mirip situasinya seperti tahun 2008,â tambahnya.
Daripada menghabiskan uang untuk konsumsi, masyarakat kelas menengah atas kini cenderung menempatkan dana mereka ke berbagai instrumen investasi seperti deposito, giro, Surat Berharga Negara (SBN), hingga emas digital.
âBanyak yang parkir dulu di investasi. Suku bunga deposito 8â9%, SBN juga tinggi. Bahkan emas digital dan perhiasan kembali diminati. Investasi sekarang lebih menarik untuk mereka,â tutur David.
Sinyal Pemulihan Masih Lemah
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pemulihan daya beli masyarakat belum cukup kuat untuk mendorong sektor ritel bergerak secara optimal. Meski mal tetap ramai pengunjung, perputaran transaksi tidak sebanding dengan jumlah kunjungan.
Pengamat menilai fenomena rojali perlu dijadikan indikator penting bagi pemangku kebijakan untuk kembali meninjau strategi pemulihan ekonomi berbasis konsumsi. Selama daya beli belum stabil, sektor ritel akan terus menghadapi tantangan dalam menjaga pertumbuhan.
- Fenomena Rojali
- Daya Beli Turun
Redaktur: Fitrya A Kusumah
Penulis: Fitrya A Kusumah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.