Tekanan Impor dan Ketidakpastian Politik Tekan Nilai Tukar Rupiah
Selasa, 15 Jul 2025, 08:54 WIBJAKARTA- Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. âDari eksternal, seperti kebijakan moneter The Fed, yang masih mempertahankan suku bunga tinggi,â jelas Badiul Hadi, Senin (14/7), menanggapi melorotnya nilai tukar rupiah.
Sementara dari internal, katanya, defisit transaksi berjalan yang semakin lebar akibat tekanan impor dan lemahnya ekspor yang diperparah ketidakpastian politik domestik, termasuk transisi pemerintahan dan arah kebijakan fiskal 2025.
âTarif Trump salah satunya, bukan satu-satunya, justru faktor fundamental makroekonomi ada di dalam negeri yang kurang solid. Misalnya tekanan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali. Selain itu kinerja APBN yang ketat, dan kebutuhan pembiayaan utang dan pembelian valas oleh korporasi domestik,â paparnya.
Menurut dia, jika ditelaah lebih jauh, tarif resiprokal AS lebih berdampak terhadap negara-negara eksportir besar ke AS seperti Tiongkok, Meksiko, dan negara negara Uni Eropa.
âIndonesia bukan pemain utama dalam daftar tersebut. Transmisi dampaknya ke rupiah lebih bersifat tidak langsung, melalui jalur ketidakpastian global atau pelemahan ekonomi mitra dagang utama, bukan sebagai faktor utama depresiasi.â
Oleh karenanya, ia menambahkan, penting bagi pemerintah memperkuat koordinasi fiskal-moneter secara responsif. Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) harus meningkatkan koordinasi strategis untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali, mengelola suku bunga dan pasokan likuiditas agar tidak mendorong pelemahan rupiah lebih lanjut dan menjaga kredibilitas pasar melalui komunikasi publik yang transparan.
âPemerintah harus menahan defisit APBN dan perbaiki struktur pembiayaan agar tidak terlalu bergantung pada utang dan mengurangi belanja yang tidak produktif serta memprioritaskan proyek-proyek yang multiplier effect.
Pengaruh Sentimen
Pada penutupan transaksi, Senin (14/7), Nilai tukar (kurs) rupiah kembali melemah karena pengaruh sentimen atas indikasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang tidak akan memperpanjang batas waktu penerapan tarif resiprokal pada 1 Agustus 2025.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi mengatakan kebijakan tarif Trump akan berlaku efektif mulai 1 Agustus, sehingga memberikan waktu terbatas bagi negara-negara ekonomi utama untuk menyelesaikan lebih banyak kesepakatan perdagangan dengan Washington.
Akhir pekan lalu, Trump telah mengumumkan penerapan tarif 30 persen untuk Meksiko dan Uni Eropa (UE). Beberapa negara lainnya juga dikenakan tarif, seperti Jepang dan Korea Selatan yang masing-masing 25 persen, 50 persen untuk Brasil, serta 50 persen impor tembaga.
Sementara dari domestik, Bank Indonesia (BI) melaporkan jumlah utang luar negeri Indonesia pada Mei 2025 naik 4,05 miliar dollar AS atau sekitar 66 triliun rupiah menjadi 435,6 miliar dollar AS atau sekitar 7.100,28 triliun rupiah dengan asumsi kurs JISDOR BI 16.300 rupiah per dolar AS pada akhir Mei 2025.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin (14/7) di Jakarta melemah sebesar 32 poin atau 0,20 persen menjadi 16.224 per dollar AS dari sebelumnya 16.218 rupiah per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari itu juga melemah ke level 16.247 rupiah per dollar AS dari sebelumnya sebesar 16.221 rupiah per dolar AS.
- tekanan impor
- kredibilitas rupiah
Redaktur: Diapari S
Penulis: Diapari S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.