Mengenal Mitos 'Lusan', Pantangan Pernikahan Anak Pertama dan Ketiga dalam Tradisi Jawa
Sabtu, 12 Jul 2025, 14:30 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Dalam masyarakat Jawa yang sarat dengan nilai-nilai tradisional, mitos dan kepercayaan adat masih memegang pengaruh kuat, termasuk dalam urusan pernikahan.
Salah satu mitos yang hingga kini masih diyakini oleh sebagian kalangan adalah mitos lusanâlarangan adat yang menyebutkan bahwa anak pertama sebaiknya tidak menikah dengan anak ketiga.
Secara etimologis, kata lusan berasal dari gabungan kata dalam bahasa Jawa, yakni telu (tiga) dan kapisan (pertama). Mitos ini menyatakan bahwa penyatuan antara anak sulung dan anak ketiga dalam ikatan pernikahan bisa membawa nasib buruk, baik secara emosional, ekonomi, maupun spiritual.
Karakter Bertolak Belakang
Dari sudut pandang psikologis, anak pertama dan anak ketiga dinilai memiliki kepribadian yang kontras.
Anak sulung umumnya berperan sebagai pemimpin, pengarah, dan teladan bagi adik-adiknya. Sebaliknya, anak ketiga sering digambarkan sebagai pribadi yang lebih manja, mandiri, namun sulit diatur.
Perbedaan ini dinilai berpotensi memicu konflik dalam rumah tangga jika tidak diantisipasi sejak awal. Beberapa kalangan percaya bahwa pernikahan antara anak pertama dan ketiga akan rawan pertengkaran dan sulit mencapai keharmonisan.
Ancaman Masalah Ekonomi dan Kematian
Tak hanya soal kepribadian, mitos lusan juga menyebutkan adanya kesulitan ekonomi yang membayangi pasangan tersebut. Rezeki dipercaya tidak akan lancar, pekerjaan sulit diperoleh, bahkan usaha yang dijalankan berisiko gagal.
Lebih jauh, mitos ini juga menyinggung risiko paling ekstrem: kehilangan orang terdekat. Kepercayaan turun-temurun menyatakan bahwa salah satu pasangan, atau bahkan orang tua mereka, bisa saja meninggal setelah pernikahan berlangsung.
Kendati demikian, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang mendukung mitos tersebut. Para pakar budaya menyebut bahwa kepercayaan ini lebih bersifat simbolik dan berkembang dari konstruksi sosial yang diwariskan antar generasi.
Solusi dan Pendekatan Rasional
Meski mitos ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat, tidak sedikit pula pasangan yang berhasil membangun rumah tangga harmonis meski berasal dari urutan kelahiran pertama dan ketiga.
Mengutip Bridestory.com, terdapat beberapa solusi yang dapat diterapkan pasangan untuk mengatasi potensi konflik akibat perbedaan karakter. Salah satunya adalah membangun komunikasi yang jujur dan terbuka sejak awal pernikahan.
Selain itu, memahami bahwa setiap individu memiliki karakter unik akan membantu pasangan lebih mudah menerima perbedaan. Sikap saling mendengarkan, tidak segan meminta maaf, serta mengalokasikan waktu untuk quality time bersama dinilai penting dalam memperkuat hubungan.
Di tengah arus modernisasi, mitos seperti lusan menjadi bagian dari kekayaan budaya yang patut dihargai, namun tetap perlu disikapi secara bijak. Pemahaman kritis terhadap tradisi dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci agar budaya tetap hidup, namun tidak menghalangi kebahagiaan pribadi.
- Tradisi Jawa
- Mitos Lusan
Redaktur: Fitrya A Kusumah
Penulis: Fitrya A Kusumah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.